Kamis, 03 Januari 2013

4 Desa di Wonosari Dipasangi Lampu Perangkap Wereng

Sebanyak empat desa di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten pada 2013 akan dipasangi lampu perangkap serangga atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Empat desa itu masing-masing Sekaran, Jelobo, Duwet dan Sidowarno.
“Alat bernama light trap (LT) atau lampu perangkap serangga itu merupakan bantuan dari Dinas Pertanian. Selain empat desa di Wonosari, di sejumlah desa di beberapa kecamatan di Klaten juga mendapat bantuan serupa. Hanya saja jumlah desa di tiap kecamatan ada yang berbeda,” kata Kepala Desa Sidowarno, Wonosari, Rujito Suprayogo ketika ditemui di Wonosari, Kamis (27/12/2012).
Menurut dia pemasangan alat itu dalam rangka pengamanan produksi dari gangguan OPT, terutama yang disebabkan serangga hama, diperlukan pengawalan ketat terhadap tanaman. Caranya dengan gerakan deteksi dini terhadap munculnya populasi atau serangan OPT antara lain melalui pengamatan dengan alat bantu LT.
Rujito menambahkan LT bertenaga surya itu nantinya akan dipasang di persawahan yang terluas dan endemis serangan OPT seperti hama wereng batang cokelat, penggerek batang dan sebagainya. Kendati demikian pemasangan LT juga harus memerhatikan berbagai aspek di antaranya faktor keamanan alat dari pencurian dan kemudahan dalam pengamatan.
Sementara itu Kepala Desa Bener, Wonosari, Radimo mengakutakan kendati pemasangan alat tersebut tidak di desannya, dia mengaku senang. Sebab desanya yang bersebelahan dengan Sidowarno diharapkan akan mendapat manfaat.
Karena OPT seperti wereng, batang cokelat, penggerek batang dan sebagaainya bisa bergerak ke segala penjuru arah dengan radius sebaran yang cukup jauh. “Setahu saya alat ini belum ada yang dipasang di Klaten. Kalau Sukoharjo memang sudah ada yang dipasang di antaranya di Kecamatan Baki atau di sebelah utara desa saya,” kata dia.

Sumber: Solopos.com

Warga Protes, Jalan Rusak Ditanami Pohon Pisang

Rusaknya Jalan Raya Wonosari di Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Klaten yang tak segera diperbaiki memicu seringnya terjadi kecelakaan.
Lubang di sepanjang ruas jalan tersebut membuat pengendara sepeda motor terjatuh akibat terperosok ke dalam lubang. Kondisi itu membuat warga setempat nekad menanami jalan tersebut dengan pohon pisang.
Sedikitnya ada lima titik yang ditanami pohpon pisang. Selain untuk protes karena jalan tak segera diperbaiki, penanaman pohon juga dimaksudkan untuk memberi peringatan pada pengguna jalan yang lewat, bisa menghindari lubang-lubang besar.
"Banyak pengendara motor terjatuh terperosok lubang. Jalan ini menjadi rusak karena dilewati truk-truk besar dengan muatan berat. Lubangnya cukup dalam sehingga berbahaya, jadi ditanami pohon agar tidak ada pengendara yang terperosok, kasihan apalagi kalau malam karena kurang penerangan," kata Parmo warga setempat, Kamis (3/1).
Kondisi itu diperparah dengan datangnya musim hujan. Bila hujan deras datang, lubang-lubang tersebut akan digenangi air, sehingga tak jelas terlihat oleh para pengendara yang melintas.
Warga berharap ada pengaturan angkutan galian C (pasir dan batu), sehingga tidak menimbulkan kerusakan jalan. Kepala Desa Sekaran, Heri Tri Marjono berharap agar Pemkab Klaten segera memperbaiki jalan tersebut, karena tidak cukup bila ditambal sulam saja.
Pemerintah desa setempat sudah mengajukan usulan perbaikan jalan ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Klaten, sayangnya perbaikan hanya dengan menambal bagian yang berlubang saja.
"Kami berharap, dinas terkait melakukan pengendalian angkutan galian C agar tertib dan tidak menimbulkan kerusakan jalan. Lubang-lubang itu berbahaya bagi pengguna jalan. Perbaikan hanya tambal sulam saja tidak maksimal, apalagi kendaraan berat masih melintas di jalan itu, sehingga cepat rusak lagi," tegas Heri.

Sumber: suaramerdeka.com

2013, Juwiring dan Wonosari Terancam Rawan Pangan

KLATEN – Kecamatan Juwiring dan Wonosari, Klaten pada 2013 terancam rawan pangan menyusul ledakan serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi para petani. Akibatnya sejumlah desa di dua kecamatan itu besar kemungkinan mengalami gagal panen.
“Di Kecamatan Juwiring paling tidak ada tiga desa yang kemungkinan pada 2013 ini akan kena paceklik akibat gagal panen. Tiga desa itu Kwarasan, Bolopleret dan Tanjung dengan tingkat kerusakan 90 persen. Karena serangan hama tikus sudah demikian parah sehingga tanaman padi banyak yang rusak dan petani rugi ratusan juta rupiah,” ujar Pendamping Kelompok Tani Desa Kwarasan, Bolopleret dan Tanjung, Martono ketika ditemui wartawan di Kwarasan, Rabu (27/12/2012).
Dia menilai serangan hama tikus akhir-akhir mengakibatkan kerusakan tanaman padi di desanya seluas kira-kira 128 hektare dengan tingkat kerusakan luar biasa. Saat ini tikus mulai menyerang membabi buta tanpa pandang bulu.
Bahkan gabah untuk benih tanaman padi yang baru disemai di sawah sampai tanaman padi yang lima hari lagi siap dipanen disikat. Selain ancaman paceklik sudah di depan mata, kata dia, kondisi ini juga dinilai akan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan.
Jika terjadi rawan pangan,ujar  dia, petani akan banyak beralih profesi menjadi berbagai tenaga kerja seperti tukang batu, buruh serabutan, kuli gendong di pasar dan sebagainya.
“Sebenarnya setiap sepekan sekali kami selalu mengadakan geropyokan tikus. Hasil yang kami peroleh banyak, tetapi hama tikus yang datang juga banyak, seakan tidak berkurang. Kesimpulan saya saat ini baru terjadi ledakan hama tikus sehingga serangannya sangat luas dan merusak,” kata dia.
Terkait itu pihaknya mendesak pemerintah segera turun tangan mengantisipasi persoalan tersebut. Karena selama ini pemerintah dinilai hanya mendata keberhasilan panen di suatu daerah.
Dia mengungkapkan rawan pangan di daerahnya pernah terjadi di desanya yakni pada 2010. Ketika itu tanaman padi para petani rusak parah sehingga banyak yang tidak mendapat hasil panen karena serangan hama wereng.
Secara terpisah Kepala Desa Sidowarno, Rujito Suprayogo mengatakan kira-kira 65 hektare tanaman padi di desanya banyak yang hancur disikat hama tikus. Dia menilai geropyokan tikus yang dilakukan sejumlah petani setiap hari seakan tak membuahkan hasil.
Bahkan hama tikus seakan meledek para petani di sawah karena berani mengobrak-abrik tanaman padi pada siang hari.

Sumber: